Alpukat yang kusayang

Akhir-akhir ini, setiap pagi saya sering menjenguk kebun saya. Kebun yang ukurannya cuma secuil. Kebun yang letaknya disamping rumah saya. Kebun yang saya tanami pohon alpukat dan tanaman anggrek.

Musababnya adalah alpukat yang saya tanam 4 tahun lalu kini telah berbuah. Berbuah untuk pertama kalinya. Jujur saja, saya merasa sangat gembira seperti anak kecil mendapat uang jajan.

Awalnya saya sempat kaget ketika ada tetangga yang komentar, “Pak imam alpukatnya berbunga tuh, sudah berapa umurnya”? Saya tidak mengira bahwa sudah waktunya alpukat untuk berbuah .

Saya pikir, pohon alpukat purlu waktu hingga sepuluh tahun untuk bisa berbunga. Maklum, alpukat saya ini bukan hasil stek atau okulasi. Benar-benar dari biji yang awalnya tumbuh dipot dan kemudian saya pindahkan sendiri.

Saya sempat was-was karena melihat alpukat milik tetangga yang umurnya lebih tua memiliki buah yang ukurannya relatif kecil. Tentu, saya berharap alpukat yang dikembangkan pohon itu memiliki ukuran standar mall lah. Hehe

Dua bulan sejak muncul bunga pun berlalu. Sekarang, bunga telah berubah jadi buah. Saya coba hitung berapa jumlah alpukat yang ada dipohon itu. Kurang lebih ada 40 buah lah. Ada yang besar ada yang sedang dan ada yang kecil, lengkap sudah. Semoga nanti ada yang mencapai berat 1 kg per butir. Wow.

Saya hanya merawat secara biasa. Hanya sesekali dipupuk dengan pupuk organik cair. Sesekali juga daun-daunnya saya kumpulkan dibawah pohon.

Saya lalu berpikir, kenapa tidak dari awal memiliki rumah, saya menanam buah di pekarangan ini. Padahal, tidak membutuhkan banyak waktu dan tenaga untuk merawatnya. Toh, jika tidak berbuah tetap menyediakan oksigen untuk saya dan tetangga saya hirup.

Alangkah hebatnya jika bisa memanfaatkan pekarangan dengan menanam buah atau sayur. Selain bisa memenuhi kebutuhan sendiri, juga bisa dibagikan ke tetangga untuk mempererat tali silaturahmi.

Mungkin harapan yang muluknya adalah bisa membantu program pemerintah nanti dalam hal ketahanan pangan. Karena ketahanan pangan tidak akan terjadi bila tidak didukung oleh semua lapisan masyarakat.

Yuk menanam di pekarangan. Demi kehidupan rumah yang lebih sehat, hemat, dan dekat.

Imam Sujangi

Leave a Reply