Loyalitas itu penting

Ini cerita tentang teman saya. Sebut saja Ratiman. Ratiman adalah satu dari delapan teman yang membantu mengembangkan usaha apotek yang saya rintis.

Bisa dibilang, saya dan Ratiman dipertemukan tidak dengan perencanaan. Awalnya beliau datang menemui saya untuk menanyakan lowongan pekerjaan. Karena waktu itu usaha saya masih kecil sehingga tidak membutuhkan banyak pegawai, saya bilang kalau tidak ada lowongan di apotek.

Kami lalu mengobrol banyak hal, saya pun melihat potensi dalam diri Ratiman. Saya lalu melihat peluang, langsung saja saya menawarkan apakah beliau mau menjadi sales obat bebas.

Tiba-tiba saja saya punya pikiran untuk mengembangkan usaha apotek dengan menjual obat bebas ke toko atau warung kelontong yang ada di kampung-kampung sekitaran Sleman. Ya, tiba-tiba saja terpikirkan oleh saya untuk berjualan dengan model menjemput bola.

Ratiman bersedia, karena memang waktu itu beliau sangat butuh pekerjaan. Ada tiga anak dan satu istri yang perlu diberikan kehidupan. Singkatnya, Ratiman menjadi sales obat apotek saya selama 5 bulan. Setelah hitung-hitungan, ternyata model seperti itu tidak bisa menutup biaya operasional.

Nasib memang tak ada yang tahu, kebetulan waktu itu ada kebutuhan karyawan apotek sebagai tenaga umum. Saya putuskan untuk menawarkan pekerjaan tersebut pada Ratiman. Walau tidak menguntungkan, tapi selama lima bulan saya bisa melihat etos kerja yang mantap dari Ratiman. Setiap hari beliau harus berkunjung dari satu warung ke warung lainnya untuk mencari konsumen baru. Semangat kerjanya begitu gigih, mentalnya kuat, itulah yang saya kagumi dari Ratiman.

Benar saja, Ratiman bisa belajar dengan cepat tentang obat-obatan. Ratiman juga bisa melakukan tensi tekanan darah, menggunakan alat tes gula, kolesterol dan asam urat dengan baik. Padahal ia tidak mendapat pendidikan kesehatan secara formal

Ratiman juga merupakan orang yang loyal dan jarang mengeluh. Padahal, jika ada apa-apa, bila mampu saya akan selalu memberikan bantuan jika memang beliau membutuhkan. Tapi seingat saya, Ratiman baru dua kali meminta pertolongan. Pertama, saat beliau mengalami kecelakaan sewaktu berangkat kerja. Kedua, meminjam modal untuk membuka usaha makanan di dekat rumahnya.

Satu hal lagi yang mungkin akan sulit ditemukan. Tanpa pernah saya pengaruhi, Ratiman ikut aktif di partai. Bahkan beliau menjadi ketua ranting Partai Amanat Nasional (PAN) di Desa Sinduadi, Mlati, Sleman. Semoga Ratiman selalu diberi keberkahan. Aamiin.

Leave a Reply