Memanen Hujan, Memanen Kehidupan

Bulan ini hampir setiap hari turun hujan, deras, dan kadang disertai angin. Selalu ada aliran yang tumpah-tumpah di jalan. Sebagian air hujan itu mungkin akan pergi, menjauhi Sleman, menuju pantai selatan.

Kebetulan, di dekat rumah saya ada dua anak sungai, kecil. Setiap hari saya mendengar gemuruh daripadanya, apalagi ketika atau setelah hujan. Saya membayangkan, air itu akan masuk ke kali Bedog atau Kali Winongo, sebelum akhirnya menetap di laut. Sejujurnya saya sedikit menyayangkan peristiwa ini.

Mengapa? Karena air hujan merupakan sumber air bersih yang sangat dibutuhkan untuk keperluan sehari-hari. Pemerintah sebenarnya telah lama melakukan gerakan panen air hujan.

Buktinya, Pemda sleman bersama Pemda DIY telah melakukan upaya seperti membangun embung maupun sabuk DAM. Dua infrastuktur itu direncanakan untuk bisa menampung air hujan sekaligus mencegah banjir lahar jika Merapi erupsi.

Sayangnya, gerakan panen hujan masih belum optimal. Perlu dukungan dan partisipasi masyakarat. Pemerintah perlu terus melakukan edukasi dan sosialisasi tentang berbagai cara untuk mendukung gerakan panen air hujan ini. Cara yang bisa ditempuh adalah pembuatan sumur resapan, biopori dan sebagainya.

Sleman dengan kaki Merapinya merupakan daerah tangkapan air untuk wilayah DIY. Maka dari itu menjaga Sleman adalah mutlak demi luas permukaan tangkapan air tidak semakin sempit. Pembangunan perumahan, apartemen maupun hunian lainnya perlu memperhatikan dampak terhadap luasan permukaan tanah yang berfungsi untuk menyerap air hujan.

Regulasi adalah kunci. Imam Sujangi ingin Melindungi. Karena seperti Merapi, Imam Sujangi selalu tulus, walau sering di-bully

Leave a Reply