Menanti Gajian Itu Lebih deg-degan dari Nembak  Gebetan

Menanti Gajian Itu Lebih deg-degan dari Nembak  Gebetan | Oleh: Imam Sujangi | #BukanCalegKaleng-kaleng | Est 1999.

Beberapa hari yang lalu sempat ramai  #YangGajiKamuSiapa. Hal tersebut timbul dari ucapan yang viral dari seorang menteri yang diangkat Jokowi. Beliau menanyakan perihal siapakah yang menggaji pegawai negeri.

Saya tidak mau bahas soal keseruan dari ucapan dari menteri itu. Tapi mau menceritakan pengalaman saya, pengalaman bisa gajian setiap saat, tidak tergantung tanggal.

Bagi yang memilih karier sebagai pegawai negeri, pasti senang rasanya ketika bertemu dengan awal bulan. Awal bulan=gajian kan? He he. Namun biasanya, semakin tua tanggal, semakin tua juga kesenangan yang dirasakan. Kenapa? Karena gaji bulanannya sudah menipis.

Ciri-ciri gaji sudah memasuki masa senja dapat dilihat dari menu di atas meja. Mungkin awal-awal gajian ketemu daging, makin akhir, makin berubah menjadi nasi dan kecap (bukan deng, ini sih pas saya masih mahasiswa kwkw).

Pagawai swasta bagaimana? Setali tiga uang, alias hampir sama. Bedanya kalo yang kerja di swasta senangnya malah di akhir bulan. Saya pernah tujuh tahun kerja di perusahaan swasta. Gajian tiap tanggal 25.

Gaji itu ditransfer ke rekening saya. Jadi kalo sudah tanggal 25, saya akan sering-sering mampir ATM buat ngecek gaji. Sedih kalo saldo masih belum namba-nambah juga. Lebih sedih dari pada lihat gebetan yang ditikung teman.

Tapi itu dulu. Alhamdullilah saya tidak mengalami kondisi demikian. Sudah sepuluh tahun lebih saya berwirausaha dengan membuka apotek. Hasilnya alhamdullilah baik.

Sekarang, saya bisa memberi pekerjaan. Memberikan pekerjaan pada tujuh teman saya. Rata-rata, teman-teman saya itu sudah bekerja lebih dari lima tahun.  Menjadi pengusaha memang ada gak enaknya, tapi berhubung ini semacam tulisan motivasi, saya akan menjabarkan hal-hal yang menyenangkannya saja.

Satu, saya tak lagi sering melihat awal atau akhir bulan. Semua tanggal sama di mata saya yang suda minus ini. Istri saya jadi punya kebebasan untuk mengatur menu makan, memang tidak selalu mewah, tapi yang penting menyehatkan dan rasanya mantap bukan?

Kedua, saya tak lagi dikejar-kejar target setiap akhir bulan. Saya paham, semua yang kerja di perusahaan swasta selalu ada target. Ya karena dulu perusahaan yang jadi tempat kerja saya menggaji karyawannya dari hasil keuntungan penjualan.

Kalo target belum tercapai, widih, dag dig dug ini jantung, pikiran pun serasa seperti sedang disindiri mertua. Sebabnya, kalo saya tak mencapai target, apalagi selama berbulan-bulan, maka harus siap-siap mendapat surat peringatan. Apa pun alasan yang saya paparkan, tidak bisa menolong nasib saya kalo target tidak memuaskan.

Ketiga, saya punya waktu yang lebih banyak untuk berkumpul dengan anak serta istri tersayang. Bisa silaturahmi ke mana saja tanpa perlu khawatir ada yang mencari. Alhamdullilah, saya diberikan karyawan yang amanah, sehingga saya bisa mengontrol apotek bahkan dari jauh sekali pun. Lebih mudah lagi karena saat ini ada teknologi bernama WA (Terima kasih Jan Koum) yang bisa saya gunakan untuk chat, rapat group, bahkan order pesanan.

Berkat menjadi pengusaha, saya bisa mengembangkan kegiatan yang saya suka. Kegiatan yang sudah saya mulai sejak mahasiswa. Pekerjaan yang menantang dan mungkin dianggap kotor oleh sebagian orang. Yakni, politik. BTW, saya nyaleg loh.

Imam Sujangi

#BukanCalegKaleng-kaleng
Est 1999

Leave a Reply