Saya masuk HMI tahun 1988

Saya masuk HMI tahun 1988 selepas mengikuti Basic Training (Batra). Pada masa itu, HMI Cabang Yogyakarta cukup besar. Jumlah komisariat mencapai 30-an, terbagi dalam 4 korkom (UGM, IKIP, UII, dan IAIN). Walau begitu, tetap saja Batra diadakan secara sembunyi-sembunyi. Tidak ada yang tahu lokasi tujuan kecuali ketua panitia. Bahkan untuk mencapainya kami harus berjalan terlebih kurang lebih 1 km selepas turun dari mobil.

Pengalaman itu begitu membekas, saya masih ingat lokasinya, Dusun Mlangi, tepatnya di rumah sebelah mushola yang ada di pinggir sungai. Semua kegiatan kami lakukan di situ, mulai dari pembekalan, makan, hingga tidur. Tidak ada fasilitas mewah, hanya tikar yang dijadikan alas. Selama tiga atau empat hari, mas Rofandi dan Cahyadi memandu kami di situ. Mas Cahyadi adalah kakak kelas sekaligus ketua komisariat Farmasi masa itu.

Waktu seakan cepat berlalu, tahun 1999 saya menjadi ketua komisariat. Kemudian, tahun 1991 diberi amanah sebagai ketua HMI Cabang Yogyakarya menggantikan mas Saat Suharto. Sebelumnya mas Saat Suharto menggantikan kanda yang kini terkenal di kalangan orang terkenal, mas Awalil Rizky.

Kegiatan utama ketua cabang adalah memberi sambutan (pembukaan dan penutupan) dan sebagai pemberi materi acara pelatihan perkaderan. Mirip tugas Gubernur atau Bupati, he he. Semua jenjang perkaderan saya ikuti. Saya pun mendapatkan pengalaman untuk hidup dan menghidupi kampung bersejarah, Karangkajen.

Saya bersyukur mengenal dan berproses di HMI. Di sini saya belajar banyak hal. Mulai  dari soal organisasi, pemikiran islam, politik, hingga toleransi. Pengalaman toleransi adalah hal yang paling saya kagumi.

Saya contohkan, saya lahir dari keluarga NU, maka cara ibadah yang saya kenal ya cara ibadah yang dijalankan oleh NU. Tapi di HMI, saya jadi memahami tentang beragam cara ibadah. Ada yang Muhamadiyah, bahkan ada yang diam-diam mengagumi Syiah. Ketika shalat, tidak ada paksaan harus mengikuti cara beribadah yang mana.

Energi kami lebih banyak dimanfaatkan untuk menjadikan nilai-nilai Islam masuk ke kehidupan yang lebih konkret. Kami tidak mau energi umat habis hanya untuk berdebat soal-soal khilafiah. Kami prihatin karena waktu itu umat Islam seakan terpuruk, baik di tataran nasional maupun international. Padahal, sejarah telah mencatat bahwa kaum muslim pernah berjaya membangun peradaban dunia yang warisannya masih tetap relevan bahkan masih dikembangkan pada saat ini.

Wacana pemikiran Islam, kritik terhadap modernitas serta persoalan kondisi umat islam yang terpuruk menjadi energi para kader. Tentu saja saya dan temen-temen banyak belajar dari buku-buku karya pemikir. Dari kutub kanan sampai kiri. Dari karya fiqh, tasawuf, filsafat, politik, hingga sastra.

Saya sangat beruntung karena dapat mengenal secara langsung pemikiran tokoh-tokoh seperti pak Deliar Noer, pak Munir Mulkan, Pak Damarjati, Said Tuhuleley, Syaefullah Mahyudin, pak Rohmat Wahab, Amin Abdulah dan lainnya.

Orde baru pernah menerapkan asas tunggal Pancasila kepada seluruh ormas dan parpol melalui UU Nomor 5 Tahun 1985 yang sudah dicabut. HMI adalah korban politik kekuasaan itu, dampaknya masih dapat dirasakan sampai sekarang (ada HMI MPO dan Dipo).

Walau begitu, HMI tetap melanjutkan tradisi pengkaderan sebagai proses belajar. Tidak ada guru dalam pengkaderan HMI, yang ada adalah proses saling belajar sesama kader. Proses belajar yang mengedepankan membaca, diskusi, bahkan debat. Jika debat, wah kami kuat melakukannya sampai pagi, atau bahkan berhari-hari.

Berkat proses itu pula HMI bisa aktif melakukan gerakan politik, mulai dari dukungan perjuangan Palestina, tolak SDSB (kupon judi), UU Lalu Lintas, bahkan kami membentuk gerakan untuk mendukung Imam Khomeini, Sadam Husein, dan kolonel Gadhafi.

Terakhir, saya mau mengucapkan terima kasih pada senior: bang Zulkifli Halim, pak Mashudi, pak Hamim, Suharsono, mas Awalyl Rizki, Saat Suharto, Edy Ryanto, Faried, Jamal, Anwar dan kader se-angkatan; Lukman Hakim, Suhartono, Junianto, Abdul Haris, Ahmad Jazuli, Soenarto, Puji Plo, Abdul Azis, Nunik, Ety, Jumiyati, Aisyah Amrin, Budi, Ernita, Rimba, Evita, Sapar, dan masih banyak lagi..

Pengalaman di HMI inilah yang menuntun saya untuk memilih jalur politik, tepatnya setelah orde baru tumbang dan pak Harto berhenti. Saya masuk PAN dengan harapan bisa ikut dalam perjuangan reformasi. Saya pernah menjadi wakil rakyat di DPRD D. I. Yogyakarta dan sekarang terus berjuang untuk menegakan sistem demokrasi yang kita harapkan, demokrasi yang bermartabat.

Saya tentu prihatin dengan situasi politik kita. Demokrasi kita telah dibajak oleh politik transaksional. Ketika kekuatan modal sudah memasuki dunia politik maka kekuasaan menjadi rakus pada rakyat sendiri keadilan akan sulit untuk diwujudkan, tapi perjuangan harus terus dilanjutkan. Selamat milad HMI yang ke-72 Tahun. Semoga tetap istiqomah menjadi organisasi kader dan perjuangan. Tetaplah menjadi penerang bagi perjalanan umat dan bangsa. Semoga.

 

Leave a Reply